Bentuk Rasa Syukur (The Shape of Gratitude)

  • Linear Location

    SMK Negeri 1 Rota Bayat, Bayat, Klaten, Indonesia (7°47'4"S 110°38'32"E)

Gallery

View All

Overview

Access

Contact the local school during business hours.

Public Dedication

Text of the Marker

The part of the story installed here:

The Shape of Gratitude

One of the most famous Pjerumahty (Champions) of Kcymaerxthaere, Færin Gætpayk, lived near this spot when this place was not only far from any town, but also a bit further from the Sun. In fact, huge geometries of ice hid his home most of the year. One day, a woman named Culev Larsze was chased towards this place by the townsfolk. She unnerved them, not only because she rode on the back of a Saber-Tooth Tiger, but because of her silence. They did not know that when Culev had thwarted a cruelty of the Gods, the Gods had taken away her gift of language with a curse: she could not speak, not even to herself. Færin saw her sincerity and, though she no longer understood words, his generous heart (and good food) warmed both her and the beautiful animal.

Years later and far away, the curse lifted, walking a river bank, Culev saw a perfect stone. It was in the shape of her gratitude, with the color of her love, the texture of her untold story, and the weight of her life. Putting that stone in a woven basket, she whispered to the tiger. The great cat picked the basket up in her teeth and carried it all the way here as a gift for Færin. Some say it was the first Ogriyaa Pjerumah, a Cognate phrase often translated as Champion’s Gift, meaning literally, “something for the home of the one who believed in me.”

And in Indonesian...

Bentuk Rasa Syukur

Salah satu Pjerumahty (Juara) yang paling terkenal dari Kcymaerxthaere, Færin Gætpayk, tinggal di sebuah tempat yang tidak hanya jauh dari kota manapun, tetapi juga jauh dari matahari. Bahkan, gugusan es yang sangat besar menyembunyikan rumahnya hampir sepanjang tahun. Suatu hari, seorang perempuan bernama Culev Larsze di kejar sampai ke tempat ini oleh penduduk kota. Dia membuat penduduk kota terkesima, bukan hanya karena dia menunggangi punggung Macan Gigi-Pedang, tetapi karena ketenangannya. Mereka tidak tahu bahwa ketika Culev pernah melawan kebengisan para Dewa, para Dewa telah merampas kemampuan berbicaranya dengan sebuah kutukan: dia tidak bisa berbicara, bahkan kepada dirinya sendiri. Færin dapat melihat ketulusannya, dan meskipun Culev tidak lagi bisa memahami kata-kata, kebaikan hati Færin (dan makanan yang enak) telah menghangatkan mereka berdua, Culev dan binatangnya yang menawan.

Beberapa tahun kemudian di tempat yang jauh sekali, dan kutukan itu telah menghilang, Culev berjalan di tepian sungai dan melihat sebuah batu yang sempurna. Batu itu adalah bentuk dari rasa syukurnya, dengan warna cintanya, beragam kisah yang belum diceritakannya, dan semua beban hidupnya. Dia menaruh batu itu pada sebuah keranjang anyaman, lalu berbisik ke si macan. Kucing besar yang meraih keranjang tersebut dengan giginya, dan membawanya kesini sebagai hadiah untuk Færin. Beberapa orang mengatakan bahwa itulah Ogriyaa Pjerumah yang pertama, istilah yang sering diterjemahkan sebagai Hadiah Sang Juara, yang secara harfiah berarti, “sesuatu untuk rumah seseorang yang telah percaya terhadap saya.”

Related Stories

Culev Larsze and The Madness